Logo Navigasi

© 2026 Bahrul Ulum ID

Berita

Kenangan Sang Putra Tentang Ketegasan dan Kasih Sayang KH Fadlullah Malik dalam Mendidik Anak

Saturday, 16 May 2026 | 14:48 WIB

Kenangan Sang Putra Tentang Ketegasan dan Kasih Sayang KH Fadlullah Malik dalam Mendidik Anak

Diambil dari Youtube Bahrul Ulum Studio

Admin

Admin

Redaksi Utama

Dalam pembacaan tahlil dan doa pada malam ke ketujuh untuk almarhum almaghfurlah KH M. Fadlullah Malik digelar pada Jumat, 15 Mei 2026  yang dilakukan ba’da Isya di kediaman beliau sekaligus Pondok Pesantren Al-Maliki 1.

 

Acara diawali dengan pembacaan Yasin oleh Agus Shofiyullah Cokro serta pembacaan tahlil dan doa khotmil Qur’an oleh KH Imron Rosyadi Malik.

 

Pada kesempatan tersebut, sambutan disampaikan oleh Agus Tajuddin Malik Fadlullah yang mengenang sosok sang ayah dari sudut pandang seorang anak.

 

Menurut Gus Amak, kedekatan seorang anak dengan ayah terkadang justru membuat anak sulit melihat sisi luar biasa dari sosok ayahnya sendiri secara utuh.

 

“Kadang seorang anak, karena kedekatannya dengan bapak akhirnya tidak bisa melihat dengan kacamata yang clear. Bahkan terlalu dekat itu malah ndadekno biasa. (Kadang seorang anak karena terlalu dekat dengan ayahnya justru tidak bisa melihat secara jelas. Bahkan kedekatan itu membuat semuanya terasa biasa saja.)” tuturnya.

 

Ia kemudian menyampaikan bahwa banyak orang mengenang Gus Fadl sebagai sosok yang ikhlas, lembut hati, dan penuh kasih sayang. Namun sebagai anak, pengalaman yang dirasakannya justru berbeda karena ia lebih banyak merasakan ketegasan sang ayah dalam mendidik.

 

“Enten seng sanjang ‘tiyang kang ikhlas’, enten seng sanjang ‘tiyang kang roqiqul qolbi, alus atine’, kasih sayang, niku dari pandangan orang luar. Dari pandangan anaknya kan bukan begitu, galak pol. (Ada yang mengatakan beliau orang yang ikhlas, ada yang mengatakan beliau lembut hati dan penuh kasih sayang. Itu dari pandangan orang luar. Kalau dari sudut pandang anaknya tidak begitu, galaknya luar biasa.)” ujarnya sambil disambut senyum jamaah.

 

Gus Amak kemudian mengenang masa kecilnya yang penuh dengan didikan disiplin dari sang ayah. Ia mengaku pernah hampir kabur dari rumah karena ketegasan tersebut. Bahkan pernah suatu ketika tidak diperbolehkan berbuka puasa di rumah sebagai bentuk pendidikan kedisiplinan.

 

Namun menurutnya, ketegasan itu lahir dari rasa cinta dan tanggung jawab besar seorang ayah terhadap anak-anaknya.

 

“Memiliki cinta lan kasih sayang itu tidak menjadikan Abah lupa tegas sebagai tugas seorang ayah. (Memiliki cinta dan kasih sayang tidak membuat Abah melupakan tugasnya untuk bersikap tegas sebagai seorang ayah.)” jelasnya.

 

Ia juga menceritakan bahwa sang ayah memiliki penghormatan yang sangat tinggi kepada guru. Setiap kali dirinya mengadu karena dihukum guru, Gus Fadl justru tidak membelanya dan bahkan sering menambah nasihat atau hukuman agar anaknya belajar menghormati pendidik.

 

Selain itu, Gus Fadl dikenal sangat disiplin dalam urusan mengaji. Setiap waktu Maghrib, anak-anak diwajibkan mengaji dan tidak diperbolehkan menyalakan televisi. Bahkan jika anak-anak sedang bermain di rumah keluarga lain, beliau akan menyusul untuk mengajak mereka pulang mengaji.

 

Menurut Gus Amak, ketegasan Gus Fadl dalam mengajarkan Al-Qur’an bahkan membuat dirinya pernah menangis ketika belajar langsung kepada sang ayah.

 

“Abah niku tiyang ingkang alus, gampang nangis, welas asih, tapi tidak meninggalkan tugas seorang ayah untuk tegas kepada putranya. (Abah itu sebenarnya sosok yang lembut, mudah menangis, dan penuh kasih sayang, tetapi beliau tidak meninggalkan tugasnya sebagai ayah untuk bersikap tegas kepada anak-anaknya.)” kenangnya.

 

Di akhir sambutannya, Gus Amak menirukan salah satu dawuh sang ayah yang paling membekas dalam dirinya. Menurutnya, nasihat tersebut menjadi gambaran bagaimana Gus Fadl mendidik anak-anak agar siap menghadapi kesulitan demi masa depan yang lebih baik.

 

“Lek kon gak gelem loro saiki, yo loro mene. Mending loro saiki wae gakpopo. (Kalau sekarang tidak mau merasakan susah, nanti akan merasakan susah di kemudian hari. Lebih baik susah sekarang tidak apa-apa.)” tuturnya menirukan nasihat sang ayah.

 

Rangkaian acara kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH Jazuli Mur.

 

Kesaksian Gus Amak menggambarkan sisi lain dari sosok KH Fadlullah Malik sebagai seorang ayah yang lembut, tetapi tetap tegas dalam mendidik anak-anaknya. Ketegasan tersebut tidak lahir dari kemarahan, melainkan dari rasa tanggung jawab dan kasih sayang agar putra-putrinya tumbuh menjadi pribadi yang disiplin dan dekat dengan ilmu agama.

Bagikan Kebaikan

Teruskan khazanah kebaikan ini kepada dunia.

Komentar